Pemilu Pertamaku

2009 July 9
by ethe

Horeee… finally, pemilu pertama. Lho kok udah umur segini baru pemilu pertama? Hehe iya karena baru pertama kalinya punya jagoan yang aku rasa layak diperjuangkan dengan suaraku :p

Rasanya? Hmm.. biasa aja.

Yang pertama, sangat senang karena TPS di apartemen sangat sepi. Apakah itu indikasi bahwa warga apartemen banyak yang tidak peduli atau indikasi aku terlalu semangat memilih pada jam 8 pagi lewat dikit? Entahlah, yang pasti masih banyak surat DPT yang tertumpuk di meja panitia mungkin karena umumnya warga apartemen pergi pagi pulang malam kapan sempatnya tanda tangan surat DPT :-)

Yang kedua, seperti yang pernah aku sampaikan dalam artikel terpisah, aku sangat tidak pro pada usaha pewarnaan kelingking sebagai tanda pemilih sudah menjalankan niatan baiknya. Jadi aku berusaha mencelup sesedikit mungkin dan mendapat sedikit perlawanan, “Kurang!” begitulah kata Ibu penjaga tinta. Tinta konon bertahan 3 hari tapi sepulang dari TPS, dibersihkan dengan tissue basah ternyata bisa bersih kembali jadi ya sudahlah tidak ada issue kelingkung ungu atau hitam lagi.

Yang ketiga, setelah pergi ke mal barulah agak menyesal karena kelingking berwarna itu bisa memberikan discount :-)

Itu aja kesan mengenai pemilu…

Andaikan Boleh Bertanya Jawab

2009 June 11
by ethe

Kalau boleh bertanya jawab sama Tuhan, pengen bertanya kenapa ya kok ada akhir dari kehidupan. Soalnya adanya titik akhir kehidupan ini membuat keresahan. Pernah gak terbangun dan melihat orang yang kita sayangi yang sedang tidur, trus kita perhatikan apakah masih ada nafasnya? Lalu ketika masih ada gerakan nafas, hati kita pun lega lalu kita tertidur lagi. Bahwa ini adalah bentuk kepedulian terhadap orang yang kita sayangi, ya, aku setuju. Tapi bahwa hal ini membuat kita menjadi cemas dan melakukan cek dan ricek, apa itu yang direncanakan oleh Tuhan?

Bahwa keimanan membuat kita tidak cemas dalam bersikap, aku setuju. Keimanan sangat membantu mengatasi kesedihan dan kekosongan saat ditinggalkan, ya itu benar. Tapi keimanan tidak mengendurkan kerajinan kita melakukan cek dan ricek tanda2 vital kehidupan dan tidak menghilangkan kekagetan saat titik akhir kehidupan itu tiba.

Pengen banget bertanya: kenapa Tuhan gak menciptakan sekian juta orang, lalu orang2 itu dibuat hidup terus saja. Sehingga gak ada yang namanya kehilangan kehidupan.

Atau pengen juga berusul: kenapa Tuhan gak mencetak expired date pada setiap orang, sehingga baik dirinya maupun orang di sekitarnya tau kapan expired datenya. Jadi baik dirinya maupun orang di sekitarnya bisa siap2. Tidak terkaget2. Lalu pada tanggal expired-nya lalu orang itu jadi off, seperti robot yang low batt. Gitu aja. Gak perlu sakit dulu, gak perlu kita berharap2 cemas akan kesembuhan. Artinya kita sudah tau bahwa ini menjelang low batt. Mungkin, mungkin yah berhubung gak tau. Kalau semua orang udah tau expired date nya, titik akhir kehidupan itu mungkin tak lagi mengerikan. Yah jadi biasa aja gitu, seperti henpon yang baterenya drop. Kehilangan ada, tapi gak pake kaget dan semua mestinya sudah disiapkan sebelum expired.

Saat ini sih bertanya sudah aku lakukan. Semoga jawaban datang….

Ketakutan yang Aneh

2009 June 10
by ethe

Takut, biasa banget ya namanya juga manusia. Seberani-beraninya manusia pasti ada aja takutnya. Tapi kali ini aku takut terhadap hal yang gak biasanya. Aku takut menjadi marah. Aku takut menjadi kecewa. Aku takut aku jadi tidak suka. Aku takut perasaan-perasaan negatif itu akan merusak suatu hubungan yang tadinya baik-baik saja. Aku manusia juga, aku tau batasan di mana perasaan negatif biasanya akan membuat kita menjauh, menjaga jarak mungkin sampai kesal, benci. Aku harap aku tidak akan sampai ke titik itu. Aku berharap ketakutanku tak terbukti. Entah harus sampai lapis berapa. Saat ini sudah bebarapa lapis yang rontok karena ketakutan tersebut menjadi nyata. Rasanya aku tak ingin tau lagi yang berikutnya terutama kalau itu menguatkan suatu hal yang aku takutkan nyata.

Semoga rasa takut ini membuat aku belajar mengendalikan emosi. Tidak marah karena marah tak ada gunanya dalam kasus ini. Kecewa, tidak dapat dihindarkan tapi semoga kecewa pada tempatnya yang tidak berlebihan. Benci, aku harap tidak akan pernah terjadi karena juga tidak ada gunanya dan malah memperkeruh suasana hati. 

Semoga rasa takut ini mengajarkan aku bagaimana bergantung pada selembar tipis pemikiran positif atas nama kasih sayang. Semoga ketakutan ini tidak mengendalikan aku pada akhirnya.

Uang Lagi?

2009 June 8
by ethe

Huh sampe bosen ngomongin uang. Minimal sudah 2 artikel yang aku muat bicara tentang uang. Kali ini bukan tentang aku berharap jadi kaya, atau sebaliknya berharap tidak kaya seperti dulu. Gak ada hubungannya lagi dengan itu semua. Kali ini mau bicara uang dan orang lain. Semoga orang lain itu tidak membaca blog ini, atau sebaliknya semoga ybs membaca agar tau apa yang ingin kusampaikan tapi tidak jadi kusampaikan karena aku tidak mau uang menyebabkan hilangnya rasa damai. Uang adalah hal terakhir yang ingin kujadikan sebab rusaknya perdamaian.

Uang. Ketika jumlahnya sedikit pengen punya lebih banyak. Ketika membanyak, semakin pengen menimbun lebih banyak lagi. Gelap mata. Uang, benarkah bisa mengubah orang? Aku rasa iya. Semoga uang juga yang nantinya menjadi media orang untuk belajar. Belajar menjadi orang yang lebih bertanggung jawab. Belajar mengelola uang lebih baik supaya cukup. Belajar memahami kecukupan. Belajar menggariskan batas kemampuan. Belajar mandiri. Belajar menjadi orang yang lebih baik karena dan bukan karena uang.

Sedikit Pembelajaran

2009 June 5
by ethe

Kalau mau meminta suatu hal, janganlah menggadaikan janji2. Jika niatan A dikabulkan maka aku akan melakukan ini itu, atau sebangsanya. Sebaliknya, berbuat baiklah dan semoga niatan A itu dikabulkan atas perbuatan baik yang SUDAH dilakukan.

Kalau mau meminta, hati2 dengan permintaan. Mintalah sepaket yang lengkap dan jelas atau jangan meminta sama sekali mungkin :-) Daripada terjadi setengah2 dan mengakibatkan kesulitan.

Ada hasil baik dan hasil buruk dari kelakukan kita selama masih hidup. Kelakuan baik tidak serta merta akan mengurangi hasil kelakukan buruk. Untuk itu, tetap minimalkan kelakuan buruk dan perbanyak kelakuan baik. Semoga hasil dari kelakuan baik bisa memberi kesejukan di tengah menjalani hasil dari kelakuan buruk.

Ibadah bisa dilanjutkan, tapi kelakuan baik dan amal baik memang hanya bisa dilakukan semasa hidup. Ikhlaskan hati, perbanyak amal, semoga meluruskan jalan di hari nanti.