Resah
Katanya yang namanya makhluk perempuan emang begitu. Ngomel, ngomong, ngobrol apapun itu tanpa perlu keputusan, kesimpulan. Yang penting bisa bersuara dan ada yang mendengar. Buat saya di jaman agak modern ini, yang penting bisa chatting, gak perlu pakai suara.
Kebanyakan wacana. Menarik sih, bahwa memang keresahan itu bisa menghilang sejalan dengan semakin banyaknya kata2 yang tertulis. Sekali lagi, kalau kata referensinya, ini hanya berlaku buat si makhluk perempuan. Saya. Iya, iya, gak usah protes, saya perempuan.
Tapi setelah keresahan berlalu, memang ada yang berubah? Hihi, gak ada. Jadi resahnya nanti balik lagi. Makin parah dengan orang tipe saya, yang gak bisa mengambil keputusan. Atau kebanyakan menganalisa tanpa membuat kesimpulan. Ujung2nya tetep aja keputusannya ngikut apa jadinya di saat itu. Gak penting.
Resah lagi dong ya. Ya iya. Cari referensi lagi. Baca buku. Tanya sana sini. Makin banyak wacana. Makin banyak tau. Makin banyak paham yang berbeda. Resah lagi, bingung lagi, gak bisa mutusin lagi.
Resah itu bisa berenti kalau aku tau mau melangkah mengikuti paham yang mana. Nah masalahnya, aku tak tau mau ikut yang mana. Hidup sih selalu mendekati yang paling disukai, belum tentu yang paling baik. Mungkin justru itu juga awal kelengahan manusia ya
Intuisi, bukan insting. Coba pertajam intuisi, yuk. Mungkin dari situ kita tau ke mana harus melangkah.
Setiap Hal terjadi untuk Suatu Tujuan
Oh ya?
(Hehe, sepertinya kalimat pembuka yang aneh untuk artikel. Biar aja deh!)
Insight, semakin singkat semakin mudah diinget. Nah kali ini insightnya ya itu tadi yang udah ada di judulnya. Apa iya keikutsertaanku dalam acara outing kemarin itu benar2 sudah diatur dengan suatu tujuan oleh Sang Pencipta? Mungkin. Ok, ok, tingkat kepercayaan masih level beginner ya beginilah.
Apa iya ketidakminatanku untuk cek buku2 di area pengembangan diri hari ini di suatu toko buku, juga ada tujuannya? Apa iya kaos yang kupakai dengan logo perusahaan tempat aku bekerja, membuat aku batal niat untuk berkunjung ke lorong buku bisnis, juga ada tujuannya? Apa iya ketertarikan tiba2 ke area buku kesehatan juga ada tujuannya?
Say so. Minimal, hari ini hati enteng, lebih bahagia. Semoga hari ini ada orang lain yang juga bahagia atas kehadiranku di lorong itu. Minimal, hari ini ada satu hal lagi yang bisa dijadikan alasan untuk bersyukur. Syukur bahwa masih diberi kesempatan menjadi lebih baik. Amin.
Garis Lurus
Cara tersingkat untuk sampai pada tujuan adalah sesuai garis lurus. Rupanya pada proses mau berjalan lurus itu sering kali ada yang membuat kita berkelok2.
Mari buang pikiran yang membelokkan kita. Tetap lurus teguh sampai ke tujuan.
-inspired by Simple*ology-
Keputusan Berlogika
Dapet buku murah yang cuman 10rb. Emergenetic. Menarik, dia bilang gak ada tuh yang namanya orang mengambil keputusan semata2 menggunakan logika.
Berikut cara yang ditempuh untuk menelitinya. Dua orang diberi uang 10$ dan uangnya baru akan diberikan jika sudah sepakat pembagiannya. Kalau tawarannya masing2 mendapat $5 jadi gak ada cerita lagi. Nah, saat tawarannya adalah $1 untuk Anda dan $9 untuk saya, apakah Anda akan terima atau tolak?
Well, jika Anda menolak, berarti Anda berpikir lebih dari sekedar menggunakan logika. $1 kan tetep mendingan dibandingin gak dapat apa2. Ya bener juga sih
Alkisah Negeri
Pagi ini diawali dengan membaca berita Jepang yang terpaksa melepas radiasi ke laut. Beritanya kecil2an aja sih yang aku baca di surat kabar online via RSS agent. Mikir2 gimana ya dampaknya.
Beberapa hari yang lalu di suatu wiken, baru aja liat film pendek tentang nuklir boy. Tokoh kartun yang dibuat oleh Jepang untuk menjelaskan kondisi Fukushima kepada anak2. Silahkan dicari sendiri deh di You Tube. Nah dengan berita tadi pagi, rasanya resmi nuklir boy diare.
Kemudian ada lagi berita tentang ubur2 raksasa yang sekarang gemar berkumpul di sekitar daratan Jepang. Katanya si ubur2 mendekat karena suhu air di perairan tsb naik beberapa derajat Farenheit. Ubur2 itu besarnya lebih dari 1m, ahhhhh besar yah! Kumpul2 deket pulau. Udah gitu konon kenaikan suhu itu sangat tepat untuk berkembang biaknya si ubur2. Wah.. makin banyak aja ubur2 besar.
Ini khayalan serem. Ubur2 banyak lagi kumpul, ketemu sama radiasi. Godzilla? Please, jangan deh. Ubur2 bisa jalan di darat atau melayang? Duh jangan juga.
Ada pula berita tentang tim 50 yang menurut dugaan saya secara heroik bertahan berusaha mengendalikan reaktor di Fukushima. Semoga mereka baik2 saja. Pun, kita tau juga bahwa nasionalisme di Jepang sangat tinggi. Kalau aku, yang harus ditinggal di reaktor itu.. hmm, mungkin udah kabur aja menyelamatkan diri sendiri
Diingat2 lagi, alkisah ada sebuah negeri yang bertahan dengan niatannya membangun reaktor nuklir. Padahal di negeri tersebut banjir tak dapat diatasi. Macet saja, tak dapat diatasi. Korupsi gak dapat dihentikan. Apa jadinya suatu reaktor nuklir dengan material yang dikorupsi spesifikasinya.
Kira2 dalam otakku, seperti Homer Simpson memonitor reaktor nuklir tempatnya bekerja.
Semoga negeri itu selamat.