Lombok, 4th Day
Hari keempat, breakfast kok setiap hari samaaaa terus menunya, kecuali hari ini ada kacang yang diganti kentang. Sisanya sama. Lama2 bosen juga ya, tapi berhubung gak ada pilihan, kalo keluar hotel juga mau ke mana… Terpaksa deh makan lagi, makan lagi si menu yang sama berhubung doyannya juga cuma itu…..
Hari ini kita rencana mau keliling pulau Lombok yang cukup kecil, bisa ditempuh seharian. Ikutan tour dari hotel aja biar gak repot. Sekali2 boleh dong liburan gaya foya-foya gak backpacker terus… Naek mobil kijang inova lagi, berempat sama supir dan sama tour guide. Menarik juga, orang2 asli lombok malah lebih fasih berbahasa Inggris daripada berbahasa Indonesia
Hebat yaaaaa secara kalo aku mesti belajar banyakkkkkk bahasa Inggrisnya!
Perjalanan diawali ke Tanjung Aan dulu, pantai yang konon digunakan untuk iklan2 rokok seperti Djarum dan Gudang Garam. Waktu sampai situ cuaca mendung jadi warna2 pantai kurang kontras. Cerita yang aku dapat seluruh lahan disekitar Kuta seluas 1500 hektar dimiliki oleh keluarga ex presiden Indonesia. Sehingga sekarang yang lain cuma numpang
Overall pantai ini mirip2 aja sih dengan pantai di hotel. Untuk yang nginep di Novotel ada program dari hotel untuk berkunjung ke pantai dan bukit di sekitarnya…
Dari situ kita pergi ke arah utara keramaian pulau Lombok (Mataram) tapi sempat berenti dulu di desa Sukarara yang keahlian masyarakatnya adalah membuat tenunan. Di desa tsb semua perempuan harus bisa menenun, sudah diajari sejak usia dini (sekitar 9-10 tahun). Perempuan baru boleh menikah setelah berhasil menyelesaikan 3 kain tenun songket (1 untuk dirinya saat menikah, untuk suami dan mertua). 1 kain diselesaikan antara 1-3 bulan tergantung corak. Setiap perempuan punya 1 alat tenun, jadi jumlah perempuan di desa itu dapat dihitung dari alat tenun :-p
Sementara para pria bertani dan jika tidak musim tani, mereka membuat kain tenun ikat, seperti di foto bagian bawah kanan berwarna orange. Selesai mencoba menenun dan terkagum2 karena rumit, akhirnya aku menemukan 1 kain songket di koperasi yang persis sama seperti yang aku coba tenun. Itulah satu2nya oleh2 yang aku beli di Lombok
Dari situ berlanjut ke utara lagi lewat bukit2 dengan monyet2 berkeliaran tapi jinak, gak seperti di Sangeh yang suka iseng tarik2 properti kita. Tujuan berikutnya adalah 3 gili (pulau kecil) yang terkenal itu. Dari parkiran mobil naik cidomo (delman) ke pelabuham. Dari pelabuhan sewa boat yang akan mengantar dan menunggu kita selama ke gili.
Gili pertama dikunjungi adalah yang paling jauh, Trawangan, sekitar 30-45 menit dari pelabuhan tapi gak kerasa hehe rasanya deket sih. Ini adalah gili yang paling terkenal, tapi baru melihat dari ujung pantai udah sedih dan kurang berminat. Bukan main ramainya, seperti Bali aja… Isinya hampir sebagian besar turis mancanegara, cafe sepanjang jalan, tempat belajar diving dan pertokoan. Makan siang di sini. Totally not my fav gili.
Ke gili berikutnya, Mano, 10-15 menit dari Trawangan. Ini adalah gili yang paling sepi jadi cukup menarik. Tapi yang namanya gili ya bener2 gili, kecil. Ada beberapa warung dan penginapan ajah. Isinya di sini lebih pasti turis mancanegara yang suka snorkling dan diving.
Ke gili berikutnya lagi, Air, 10-15 menit dari Mano. Agak lebih ramai sedikit, tampak boat dengan kaca di dasar untuk liat dalamnya laut. Tapi terlihat pantainya lebih hitam, konon hasil volcano Rinjani. Berhubung di gili2 ini gak banyak yang bisa dilihat, jadi satu2nya yang aku rasa menarik buat foto cuma dermaga :p
Konon gili yang lebih bagus menurut local people adalah gili Nanggu, letaknya justru di selatan dekat Kuta. Lebih sepi dan lebih bagus untuk kegiatan dalam air, tapi gak cukup waktu untuk ke situ
Mungkin taun depan ya?
Dari gili kita terus muterin sisi ujung pulau Lombok ke arah Senggigi, sekedar memuaskan mata untuk tau daerah yang paling kondang di Lombok. Tiba di daerah situ menjelang sunset. WAH! Crowded banget! Hotel terus menerus sepanjang jalan. Mobil, motor, orang hilir mudik rame banget. Dari kejauhan terlihat pantai yang rame banget, parkiran2 mobil skitar pantai juga rame. Not quite a nice place to relax ya?
Kembali ke Mataram masih kenyang tapi tetep beli ayam bakar taliwang dan plecing kangkung sekalian dah di Lombok kan pengen tau. Rumah makan yang konon terkenal letaknya malah susah dijangkau, untung kita bareng local guide. Taliwang, ternyata adalah istilah buat ayam khas kampung Taliwang. Selama ini aku kira taliwang adalah jenis/cara memasak. Ayam yang dibakar adalah ayam yang masih kecil tapi cukup mengenyangkan. Sementara plecing kangkung agak mirip urap2 tapi ada taburan kacang tanah goreng dan sambel tomat.
Overall mengelilingi pulau Lombok, rasanya ingin segera kembali ke hotel


