Andaikan Boleh Bertanya Jawab

2009 June 11
by ethe

Kalau boleh bertanya jawab sama Tuhan, pengen bertanya kenapa ya kok ada akhir dari kehidupan. Soalnya adanya titik akhir kehidupan ini membuat keresahan. Pernah gak terbangun dan melihat orang yang kita sayangi yang sedang tidur, trus kita perhatikan apakah masih ada nafasnya? Lalu ketika masih ada gerakan nafas, hati kita pun lega lalu kita tertidur lagi. Bahwa ini adalah bentuk kepedulian terhadap orang yang kita sayangi, ya, aku setuju. Tapi bahwa hal ini membuat kita menjadi cemas dan melakukan cek dan ricek, apa itu yang direncanakan oleh Tuhan?

Bahwa keimanan membuat kita tidak cemas dalam bersikap, aku setuju. Keimanan sangat membantu mengatasi kesedihan dan kekosongan saat ditinggalkan, ya itu benar. Tapi keimanan tidak mengendurkan kerajinan kita melakukan cek dan ricek tanda2 vital kehidupan dan tidak menghilangkan kekagetan saat titik akhir kehidupan itu tiba.

Pengen banget bertanya: kenapa Tuhan gak menciptakan sekian juta orang, lalu orang2 itu dibuat hidup terus saja. Sehingga gak ada yang namanya kehilangan kehidupan.

Atau pengen juga berusul: kenapa Tuhan gak mencetak expired date pada setiap orang, sehingga baik dirinya maupun orang di sekitarnya tau kapan expired datenya. Jadi baik dirinya maupun orang di sekitarnya bisa siap2. Tidak terkaget2. Lalu pada tanggal expired-nya lalu orang itu jadi off, seperti robot yang low batt. Gitu aja. Gak perlu sakit dulu, gak perlu kita berharap2 cemas akan kesembuhan. Artinya kita sudah tau bahwa ini menjelang low batt. Mungkin, mungkin yah berhubung gak tau. Kalau semua orang udah tau expired date nya, titik akhir kehidupan itu mungkin tak lagi mengerikan. Yah jadi biasa aja gitu, seperti henpon yang baterenya drop. Kehilangan ada, tapi gak pake kaget dan semua mestinya sudah disiapkan sebelum expired.

Saat ini sih bertanya sudah aku lakukan. Semoga jawaban datang….

One Response leave one →
  1. 2009 June 12

    kalo kamu bertanya sama orang yang sudah diprediksi umurnya, kayaknya jawabnya ga sesederhana itu. Umumnya mereka akan memilih mereka tidak tahu kapan hidupnya akan berakhir. Karena kenyataan itu menyiksa mereka, bahwa mereka tahu kalo beberapa saat lagi dia akan meninggalkan orang orang yang dia cintai, terutama jika orang orang tersebut belum lagi siap untuk menjalani hidup tanpa dirinya.

    itulah bijaksananya Tuhan (jika bijaksana itu bisa menggambarkan ke-Tuhan-an-Nya). Alih alih kita siap menghadapi waktunya, yang ada biasanya kita takut yang berlebihan. dan kita sibuk menghitung brapa waktu yang tersisa.

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Subscribe to this comment feed via RSS