Resah
Katanya yang namanya makhluk perempuan emang begitu. Ngomel, ngomong, ngobrol apapun itu tanpa perlu keputusan, kesimpulan. Yang penting bisa bersuara dan ada yang mendengar. Buat saya di jaman agak modern ini, yang penting bisa chatting, gak perlu pakai suara.
Kebanyakan wacana. Menarik sih, bahwa memang keresahan itu bisa menghilang sejalan dengan semakin banyaknya kata2 yang tertulis. Sekali lagi, kalau kata referensinya, ini hanya berlaku buat si makhluk perempuan. Saya. Iya, iya, gak usah protes, saya perempuan.
Tapi setelah keresahan berlalu, memang ada yang berubah? Hihi, gak ada. Jadi resahnya nanti balik lagi. Makin parah dengan orang tipe saya, yang gak bisa mengambil keputusan. Atau kebanyakan menganalisa tanpa membuat kesimpulan. Ujung2nya tetep aja keputusannya ngikut apa jadinya di saat itu. Gak penting.
Resah lagi dong ya. Ya iya. Cari referensi lagi. Baca buku. Tanya sana sini. Makin banyak wacana. Makin banyak tau. Makin banyak paham yang berbeda. Resah lagi, bingung lagi, gak bisa mutusin lagi.
Resah itu bisa berenti kalau aku tau mau melangkah mengikuti paham yang mana. Nah masalahnya, aku tak tau mau ikut yang mana. Hidup sih selalu mendekati yang paling disukai, belum tentu yang paling baik. Mungkin justru itu juga awal kelengahan manusia ya
Intuisi, bukan insting. Coba pertajam intuisi, yuk. Mungkin dari situ kita tau ke mana harus melangkah.